Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Nusron menyampaikan bahwa keberagaman pemikiran merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, ruang akademik perlu menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif agar dapat memperkaya wawasan dan mendorong lahirnya pemikiran yang kritis serta konstruktif.
“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Menteri Nusron.
Kuliah umum tersebut turut menghadirkan Rocky Gerung sebagai narasumber. Kehadiran narasumber dengan perspektif yang beragam menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang diskusi akademik yang terbuka, sehingga mahasiswa dapat melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.
Menteri Nusron juga mendorong civitas akademika Politeknik Agraria STPN untuk terus mengembangkan budaya berpikir kritis, terbuka, dan berbasis pada proses akademik. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika intelektual yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan dan kebijakan publik.
Melalui kegiatan kuliah umum ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari sisi teknis dan kedinasan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami berbagai perspektif serta membangun argumentasi secara kritis dan konstruktif.
